Berbagi pengalaman

Posted on Februari 21, 2007. Filed under: Islam |

Ajaran ‘tauhid’ yang umum dimengerti yang diambil dari tulisan para penulis-penulis masyhur dan hadist mengatakan, bahwa kalau kita telah mengimani Allah sebagai satu-satunya tuhan, maka kita sudah bebas dari kemusyrikan. Jadi titik berat daripada konsep ‘tauhid’ yang mereka teorikan adalah ‘tiada tuhan kecuali Allah’, Allah itu dzat yang Esa, Allah itu tidak beranak dan diperanakkan, Allah itu tidak bersekutu. Nabi Muhammad saw itu berjuang untuk menegakkan kalimat ‘Lailaha illallah’ yang selama itu dikalangan bangsanya mereka tidak mengenal Allah, sebab selama itu mereka bertuhankan patung-patung Latta, Uzza, Man’at, Hubl, dan Nashr.
Sekilas pernyataan itu memang meyakinkan, tetapi ternyata banyak bukti-bukti sejarah yang disembunyikan, terutama memanipulasi makna dan hakekat syahadat ‘La ilaha illallah”. Dalam kaitan ini Allah sekedar hanya diterjemahkan “Tuhan Yang Esa” dalam arti Numerik, seolah Satu itu Wahid (angka satu), bukan Ahad (Satu-Satunya). Sedangkan asmaul husna atau nama-nama mulia Allah yang lain hanya dijadikan untuk buah permainan ucapan untuk dzikir-dzikir, padahal nama-nama itulah yang harus kita fahami, kita hayati, makna ma’rifat dan hakekatnya.
Bukti-bukti bahwa orang Quraisy percaya adanya Allah :
Nama bapak Muhammad saw adalah Abdullah yang artinya ‘hamba Allah’. Dikalangan bangsa Quraisy setiap kali membicarakan sesuatu mereka tidak lupa mengatakan “Walloh”.
Berikut kami kutipkan (dari Sirrah Nabawiyah) sambutan Abu Tholib paman Muhammad saw wakil pengantin laki-laki pada saat pernikahan Muhammad bin Abdillah (belum jadi Nabi) dengan Siti Khodijah
“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menciptakan kita dari keturunan Ibrahim dari bibit tanaman Ismail dari pokok Ma’aad dari cucu Mudar, yang telah menjadikan kita penjaga dan pemelihara rumahNya (Allah) yaitu Ka’bah, pengurus dan pengatur tanah suci-Nya yang tanah dan rumah itu digunakan bagai ibadah haji untuk perlindungan yang mendatangkan keamanan, dan yang menjadikan kita sebagai hakim bagi segenap ummat manusia. Kemudian daripada itu, sesungguhnya anak saudaraku ini Muhammad bin Abdillah, tidaklah dapat ditimbang dan dibanding dengan seorang laki-laki lain, baik kemuliannya, keutamaannya, keluhuran budi pekertinya maupun kebangsawanannya, melainkan pasti dapat kemenangan, meskipun dia seorang yang tidak mampu. Karena memang harta benda itu ringan dan hilang dan mudah lenyap, urusan yang menutup kebenaran yang mengganggu kebaikan dan barang pinjaman yang musti diambil kembali oleh Yang Punya. Demi Allah, Muhammad ini kelak akan membawa berita gembira yang amat besar, kepentingan yang amat berguna dan tuntunan yang amat mulia. Sesungguhnya para hari ini, telah menggembirakan bagi saudara-saudara ialah Khodijah binti Khuwalid yang telah dipinang dan diambil isteri oleh Muhammad bin Abdillah dengan mas kawin, baik yang tunai maupun yang ditangguhkan dari harta bendaku sebesar dua belas setengan aqiyyah adanya”
Selesai Abu Tholib memberikan sambutan, berdirilah Waroqah bin Naufal, seorang tua Ahli Kitab (Taurat dan Injil) paman Siti Khadijah sebagai wakil mempelai wanita untuk menyambut pidato Abu Tholib, memberikan balasan :
“Segala puji dan sanjung hanya bagi Allah jua, yang telah menjadikan kita sebagai apa yang telah engkau nyatakan tadi, dan yang telah memuliakan kita sebagai apa yang telah engkau nyatakan tadi. Kita kepala bangsa Arab dan pahlawan-pahwalannya adalah orang yang akhli tentang itu, tidak ada orang Arab yang mengingkari akan kemuliaan saudara-saudara dan tidak ada seorangpun yang menolak akan keluhuran saudara-saudara, maka dari itu saksikanlah wahai saudara-saudara bangsa Quraisy bahwasanya hari ini, telah menikahkan Siti Khodijah binti Khuwalid dengan Muhammad bin Abdillah dengan menyediakan peralatan untuk perkawinan ini 400 dinar”
Jadi bangsa Quraisy adalah bangsa yang sangat mengagungkan Allah, dan tentu saja percaya ‘adanya’ Allah. Karena Allah itu Ahad, maka mereka tidak mempermasalahkan konsep yang digaungkan kembali oleh Nabi “Lailaha illallah”, sebab didalam ibadah haji mereka, mereka juga menyatakan “Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarikalakal labbaik, Innal hamda wal ni’mata walakal mulk, la syrikalak”.( Artinya : Aku datang memenuhi panggilanMu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, ni’mat segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu” Sebelum Muhammad mendapatkan wahyu (dalam masa Makiyyah/ kekuasaan musyrik Mekkah) tercatat telah melakukan haji paling tidak 20 kali yang dilaksanakan sebagai ibadah wajib bangsa Quraisy seperti yang diucapkan oleh Abu Thalib diatas. Allah sendiri mengakui bahwa bangsa Quraisy telah mengenalNya :
10:31: Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?
Jadi masalahnya kemusyrikan bangsa Quraisy itu dimana? padahal mereka bangsa yang berperadaban, yang mempunyai budaya dan kesusateraan yang tinggi sehingga Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran.
Masalah musyrik adalah masalah TIDAK melaksanakan ketaatan pada hukum Allah :
Bangsa Arab adalah bangsa yang ummiy yaitu bangsa yang sangat bangga dengan budaya dan adat istiadat bangsanya (um). Dalam peri kehidupannya mereka sangat mendambakan kemajuan, mereka adalah orang-orang yang ulet, pekerja keras sangat bangga akan Bapak-Bapak bangsanya (Latta, uzza, man’at, hubl dan nashr). Mereka sangat meyakini kitab yang diturunkan Allah kepada para Nabi
Dalam mengatur kehidupannya mereka menjunjung tinggi prinsip musyawarah dan mufakat yang dilaksanakan dalam majelis Darun Nadwah (Tempat Untuk membuat Undang-Undang). Mereka melaksanakan ibadah sholat, zakat, puasa, haji sebagai bukti ketaatan kepada Allah, tetapi mereka memisahkan urusan keagamaannya dari kehidupannya. Mereka lebih suka mengatur cara-cara hidup dan kemasyarakatannya dengan catra-cara yang mereka buat berdasarkan konsesus mereka.
Akan tetapi mereka menjadikan Kitab-Kitab dari Nabi-Nabi BUKAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP, mereka tidak faham isi kitab (sebagai hukum) dan menjadikannya sekedar sebagai bacaan mulia saja untuk mencari pahala dan bahkan banyak yang menjadikannya sebagai mantera-mantera..
Muhammad saw pada umur 37 tahun frustasi melihat keadaan bangsanya, yang taat melaksanakan ibadah mahdiyah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kacau balau (chaostic) , pertikaian dan korupsi meraja lela, perbuatan maksiat dan mungkar biasa dilakukan disekitar Ka’bah. Para ulamanya tidak ada yang berani memperingatkan para pejabat tentang pola kehidupan rakyat bangsa Arab yang tidak lagi taat kepada hukum Allah. Mereka berdakwah dengan melantunkan ayat-ayat Allah tetapi bukan untuk memperingatkan konsep ‘Lailaha illallah’ yang benar dan seharusnya, melainkan untuk mencari pengaruh didalam system kekuasaan dan ujung-ujungnya hanya untuk mencari kemasyhuran dan kekayaan.
2:159: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,
2:174: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.
Itulah ancaman Allah pada ulama seperti itu, tetapi para anggota masyarakat sangat menyanjung-nyanjungnya, mereka lebih suka berceramah dengan teori-teorinya sendiri daripada menyampaikan risalah Allah dan rajin bertausyiah kepada masyarakat tetapi diluar konteks al Kitab. Kebanyakan dari ummat mengikuti secara taqlid para ulama, mencium-cium tangannya, memuji-mujinya, memberikan makanan yang enak-enak, memberi bayaran tinggi, mengharap-harap kedatangannya dan menjadikan sebagai ilah mereka :
QS. 9:31: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai ilah selain Allah dan (juga mereka memperilahkan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Robb yang Ahad, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
Sungguh pedih ancaman Allah kepada para Ahli Kitab seperti itu, maka seharusnya mereka mengajak orang-orang yang melakukan sholat, zakat, puasa, haji mempunyai akhlakul karimah yaitu hanya tunduk patuh kepada (hukum) Allah saja. Tetapi sayang mereka : pemimpin, ulama dan umatnya sama saja selalu mendengung-dengungkan ‘kebajikan’, mendatangi majlis-majlis ta’lim tetapi sebatas untuk pribadi-pribadi, tidak mau menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar menjadi system hukum yang berlaku. Kata-kata indah itu hanya didegungkan dimasjid-masjid tetapi diluar masjid yang berlaku adalah kebiasaan-kebiasaan bangsanya yaitu berperi kehidupan materialistis dan plural, hidup berfoya-foya dengan judi, khamar dan fahisya.
Muhammad saw disuruh merubah pengabdian manusia kepada Allah dengan menerapkan hukum Allah. Muhammad saw diperintahkan Allah untuk merubah kondisi bangsa Quraisy yang ‘sholeh’ (dalam beribadah maghdohnya) tetapi mungkar dalam kelakuan sehari-harinya. Yang menjadi biang kekacauan adalah sistem yang dipakai bangsa itu, mereka mengaku Islam tetapi memakai sistem ‘aba-ana’ atau sistem kekuasaan yang didasarkan para kelompok mayoritas yaitu dominasi Abu Jahal cs. Walaupun dalam kenyatannya mereka bermusyawarah tentu saja yang dimenangkan dan dipentingkan adalah interest golongan mereka (mayoritas) sendiri:
6:116: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)
Dengan demikian mengertilah kita bahwa prinsip tauhid yang disuruh Allah adalah TAATI ALLAH SAJA dan jangan sekali-kali taati yang lain (thoghut) :
16:36: Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
QS. 7:3: Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).
[528] Maksudnya: pemimpin-pemimpin yang membawamu kepada kesesatan.
QS. 2:169: Sesungguhnya ‘syaitan’ itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
QS. 2:170: Dan apabila dikatakan kepada ‘mereka’: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
QS. 2:256: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) diin (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[162] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah (ditaati) selain dari Allah s.w.t.
QS. 2:257: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan (thoghut), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
QS. 28:85: Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Robbku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.
Jadi pengertian Tauhid intinya adalah ‘hanya menyembah kepada Allah saja’ yaitu HANYA MENGIKUTI HUKUM ALLAH saja, jangan mengikuti hukum, kekuasaan, dan taat kepada thoghut, yaitu syaithan pemimpin suatu bangsa yang memusyriki (mempersekutukan) hukum, kekuasaan dan ibadah kepada Allah.
Konsep “Lailaha illallah” yang dimurnikan kembali oleh Nabi Muhammad, walaupun dimengerti oleh Abu Jahal cs tetapi mereka tolak, sebab dengan konsep yang telah dimurnikan kembali itu, Abu Jahal cs takut akan kehilangan pengaruh dan jabatannya, Prinsip “Lailaha Illallah” yang dibawa Nabi akan merubahkan system kenegaraan yang sudah lama diterapkan para bangsa Quraisy kemudian akan diganti dengan system baru yaitu system diinul Islam dimana manusia akan hanya berhukum pada hukum Allah, berkuasa pada kerajan Allah, dan bertaat hanya kepada Allah (Aqidah tauhid yang benar).
Bangsa Quraisy waktu itu berada dibawah proktetorat kerajaan Persia, mereka juga takut jika mengubah idiologi Negara akan menimbulkan kemarahan kepada bangsa Persia, sebuah kekuasaan yang besar di Timur (Masyrik). Maka dari itu bangsa Quraisy menamakan Muhammad saw sebagai ‘gila’ sebab mana mungkin melawan pengaruh Persia.
Demikian juga apabila diantara kita ada yang mau sadar dan kembali untuk memperjuangkan “Lailaha illallah” seperti Nabi Muhammad saw memperjuangkannya, maka jangan khawatir kalau kita juga dikatakan ‘gila’. Kalau ini terjadi maka berarti perjuangan kita sudah benar sebab sesuai dengan sunnah Rasul.
Apa definisi musyrik menurut al Quran :
2:165: Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Menyembah bahasa arabnya adalah ”abada’, artinya mengabdi atau tunduk patuh. Sedangkan menyembah dalam bahasa Sangsekerta artinya suatu kegiatan ritus seperti sembahyang (nyembah langsung Sang Hyang), jelas maknanya sama sekali jauh dari makna sesungguhnya. Seorang abdi adalah seorang yang SIAP MELAKSANAKAN APA SAJA (mengabdi) yang diperintah oleh Tuannya (Ma’budnya) menurut apa yang diatur dan apa yang diundangkan oleh Ma’budnya melalui KhalifNya (Rasululllah).
Menurut QS.2/165 : mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, artinya berharap pada seseorang menjadi pemimpin mereka itu akan merubah negeri mereka kearah yang lebih baik, mereka memuja-mujanya dan mengelu-elukan setiap saat ketemu. Mencintai pemimpin seperti itu menurut Allah sama saja mereka mereka membuat tandingan kecintaan kepada Allah, dan Allah benci pada seseorang atau sekelompok manusia yang menyatakan menyembah Allah tetapi menyembah juga thoghut, dan menurut Allah mereka itu sungguh musyrik dan dzalim.
Perhatikan firman Allah berikut ini :
QS. 4:60: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Bukankah manusia termasuk kita-kita saat ini sedang berhakim kepada thoghut? Jadi kalau kita sholat tetapi mengimani hukum thoghut, batallah segala sholat dan amalan kita.
QS. 8:35: Sholat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Orang Quraisy mengira dan menyangka dengan kesholehan mereka, diri mereka sudah beriman, padahal tidak :
QS. 7:30: Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.
QS. 7:194: Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.
Jadi berhala itu bukan cuma patung wujud dari ‘tuhan’ dalam angan-angan manusia, itu bisa saja patung orang yang sudah mati atau bisa juga yang masih hidup seperti patung Saddam Husein atau seperti seorang tokoh bangsa ini atau lambang-lambang partai yang selalu dipajang-pajang dirumah yang selalu diusung-usung dalam waktu-waktu tertentu seperti kampanye pemilu dll, Sayangnya banyak yang mengaku Muslim bangga sekali mengusung usung berhala itu (walalupun dlm pengetahuan mereka bukan berhala).
Menurut QS. 7:194 ternyata berhala itu adalah orang juga, jadi kalau kita mengharap-harap seseorang menjadi pemimpin kita untuk mengatur masyarakat dengan aturan-aturannya dan pikiran-pikirannya maka berarti kita telah menyembahnya sebagai berhala.
QS. 5:49: dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
Peringatan ini tentunya dulunya ditujukan kepada bangsa Quraisy yang menjalankan sholat, zakat, puasa dan haji tetapi memilih membicarakan hukum mereka di Darun Nadwah. Bangsa Romawi juga mengadopsi kehidupan berdemokrasi ini, dikembangkan oleh Napoleon, ditiru penjajah Belanda diwarisi dan diimani oleh masyarakat Muslim dinegeri ini, padahal perbuatan seacam ini, menurut peringatan Allah didalam al Quran mereka itu semua menyebar luaskan ajaran syetan.
QS. 6:70: Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan diin mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.
Mereka para politisi itu sering mengecam ulama yang mengeluarkan fatwa yang menyinggung-nyinggung politik, tetapi para politisi itu yang bertitel Kyai Haji justru ‘bertausyiah’ dimana-mana untuk kepentingan politik, betapa tidak sesuainya ucapan dan keyakinan, inilah yang disebut menjadikan diin mereka sebagai main-main.
QS. 6:91 : Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quraan kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.
Peristiwa yang dialami oleh ummat Musa juga dialami oleh ummat Muhammad saw (kita-kita ini), menganggap al Quran hanya menjadi lembaran yang cerai berai, sebagai bacaan mulia untuk mendapatlan pahala bukan dijadikan ‘kataba’ yaitu alat untuk menetapkan undang-undang bagi manusia. Mereka hanya mengimani bagian-bagian tertentu saja dari Al Quran, seperti melaksanakan puasa QS.2/183 : Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumushshi yam kama kutiba ‘ala lladzina min qoblikum…, tetapi menolak “kataba-kataba” lain
QS. 24:1 (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.
QS. 48:26: Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kenapa kita memilih menjadi musyrik ?
Kebanyakan manusia seperti kita ini yakin bahwa Allah Maha Kuasa, tetapi kita tidak yakin bahwa hanya Allah-lah yang mengatur kita. Tentu saja Allah yang mengatur manusia, tetapi Allah mengatur manusia tidak dengan cara langsung seperti diyakini banyak orang melainkan melalui Rasul-rasulNya (melalui washillahNya)
QS. 3:31: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. 3:32: Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
Karena Rasul sudah wafat, maka kebanyakan dari kita terang-terangan telah menolak sunnah rasul yaitu : “tetaplah taat kepada Allah saja jangan ikuti thoghut”. Allah telah mengingatkan manusia :
QS.3:144: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Berbalik kebelakang adalah mengingkari tugas Rasul yang seharusnya mengemban risalah tegaknya diin Islam dan hanya taat kepada Allah saja, tetapi kita bangsa manusia telah memecah belah diin dan taat kepada thoghut. Kita telah kembali kepada akhlaq jahiliyah yaitu akhlaknya Abu Jahal, akhlaknya Firaun, kaum Aad, kaum Tsamud, Romawi, dan akhlak bangsa Barat yang menjadikan diri mereka Robb (penguasa hukum) QS. QS.79:24 :” Faqola anna robbukumul a’la”
Dosakah kita membuat ketaatan kepada selain Allah ?
QS. 4:48: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
QS. 4:116: Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
QS. 9:19:Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim
QS. 9:28: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Apa yang harus dilakukan ?
Kembali kepada al Quran, mengikuti sunnah Rasul :
QS. 61:10: Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? QS. 61:11: (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.QS. 61:12: Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
QS. 3:103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Walaupun kita disuruh meninggalkan thoghut tetapi janganlah kita melakukan tindakan untuk melawan thoghut, kita ikuti saja sunnah Nabi Muhammad seperti beliau waktu di Makkah dimana beliau dan orang-orang mu’min tidak pernah melakukan perlawanan kepada thoghut walau thoghut itu musuh Allah, marilah terlebih dahulu KITA SATUKAN AQIDAH, kita fahami bahwa musyrik itu adalah MEMBUAT TANDINGAN PADA HUKUM ALLAH, KEKUASAAN ALLAH, KETAATAN KEPADA ALLAH dan tugas manusia adalah mengabdi kepada Allah artinya TEGAKKAN HUKUM (DIIN) ALLAH. Kemudian nyatakan diri kita keluar dari kemusyrikan yaitu menolak untuk berhukum kepada thoghut dan apa-apa yang mereka yakini.
Kenalkah kita dengan diri kita ?
Ada hadist yang mengatakan barang siapa kenal dirinya maka dia kenal Allah. Dengan kutipan ayat-ayat diatas apakah kita sudah mengenali dimana kita berpijak, benarkan kita sudah muslim (orang yang berserah diri hanya kepada hukum Allah), mu’min (yakin dengan landasan ilmu Al Quran) ?
Prinsip Lailaha illallah ternyata adalah prinsip menjadikan Allah sebagai satu-satunya Robb bagi kita (Robbinnaas), Raja bagi kita (Malikinnaas) dan Ma’bud bagi kita (Ilahinnaas). Apabila kita tidak mengerti diri kita apakah kita sudah menjadi penegak prinsip-prinsip itu, atau justru kita menyamarkan prinsip-prinsip itu, maka kita tidak akan mengenal siapa itu Allah. Allahpun berjanji tidak akan menerima ibadah yang tidak ditujukan untuk menegakkan diin Allah, sebab Allah menganggap kita masih musyrik.
Al Quran tidak akan menyentuh orang-orang yang sudah mengilahkan hawa nafsu dan ilmu pengetahuannya :
QS. 45:23: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Ilmu yang haq untuk mengatur manusia dan alam adalah Al Quran, kalau kita tidak berminat untuk itu, maka qolbu kita akan ditutup selama-lamanya oleh Allah. Mudah-mudahan itu tidak terjadi pada diri kita, mudah-mudah kita mau merubah diri dan iklhas untuk menyatakan diri keluar dari kemusyrikan.
Alahmdulillah

Advertisements

Make a Comment

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Satu Respons to “Berbagi pengalaman”

RSS Feed for Jiddan Oh Jiddan!! Comments RSS Feed

MASSYA ALLAH BAGUS SEKALI Apa boleh naskah ini dan kalau ada naskah2 yang lain yang ber aqidah sesuai dengan aqidah para salaf(artinya sesuai dengan al-qur’an & al-hadist) saya buat buku??? tolong di balas
saya MUHAMMAD ,email:muhammad.inj@gmail.com


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: